Home / Headline / Nasional

Kamis, 1 Juni 2023 - 13:04 WIB

Sudah Tahu Belum? Ini Hukum Istri Mendiamkan Suami dalam Islam

foto by istockfoto

foto by istockfoto

PAGUCINEWS.COM – Dalam agama Islam, hubungan antara suami dan istri memiliki panduan yang diatur oleh prinsip-prinsip yang kuat. Salah satu aspek yang sering diperdebatkan adalah apakah seorang istri diperbolehkan untuk mendiamkan atau marah kepada suaminya dalam berbagai situasi. Untuk memahami lebih lanjut, berikut ini adalah hukum istri mendiamkan dan marah terhadap suami dalam Islam.

Baca Juga /Dalam Islam Suami Dilarang Membentak Istri, Ini Alasannya

Rumah tangga yang bahagia adalah rumah tangga yang dibangun di atas rasa saling pengertian dan cinta. Serta dikonsolidasikan dengan kasih sayang di antara pasangan. Seorang istri harus memahami bahwasanya kepatuhan terhadap suami adalah kewajiban dalam Islam.

Sebaliknya, suami harus melakukan pekerjaan yang baik untuk bertanggung jawab atas istri dan keluarganya. Termasuk dengan membimbing keluarganya pada kebaikan dan membawa kebahagiaan untuk istri dan anaknya.

Akan tetapi, dalam beberapa kondisi mungkin saja istri dapat marah pada suami. Kemarahan istri kepada suami atas hal-hal yang baik menurut agama harus dihindari.

Dikutip dari Dalam Islam, marah terhadap suami merupakan perilaku yang dapat mendatangkan murka Allah SWT.

Membentak atau memarahi suami termasuk ke dalam jenis dosa besar dalam Islam sebab suami adalah orang yang harus dipatuhi dan dihormati.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW juga mengatakan jika sangat tinggi kedudukan suami untuk istrinya.

“Seandainya saya bisa memerintahkan seorang untuk sujud pada orang lain, pasti saya perintahkan seorang istri utk sujud pada suaminya.” (HR Abu Daud, Al-Hakim, Tirmidzi)

“Dan sebaik-baik istri yaitu yang taat pada suaminya, bijaksana, berketurunan, sedikit bicara, tak sukai membicarakan suatu hal yg tidak berguna, tak cerewet serta tak sukai bersuara hingar-bingar dan setia pada suaminya.” (HR. An Nasa’i)

Sebagai manusia biasa, suami pun bisa berbuat salah, dan memang seorang istri seharusnya dapat menasihati dan mengingatkan suami dengan cara yang baik, komunikasi yang baik, bertutur kata lembut, dan mengusahakan untuk tidak menyinggung perasaan suami.

Baca Juga  Polisi Buru Pelaku OTK, Penusukan Terhadap MN

Jika istri tidak boleh marah pada suami, maka apakah istri boleh memilih diam dan melakukan silent treatment?

Journal Communication Monographs menemukan bahwa silent treatment digunakan baik oleh pria maupun perempuan untuk menghentikan perilaku atau kata-kata pasangannya, dan bukan untuk memancing amarahnya.

Sebenarnya, hukum istri mendiamkan suami pada dasarnya dibolehkan jika dalam rangka menasihati dan menghindari pertengkaran yang sia-sia.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk memboikot saudaranya lebih dari 3 hari. Siapa yang memboikot saudaranya lebih dari 3 hari, kemudian dia meninggal maka dia masuk neraka,”. (HR Abu Daud 4914)

Dalam hukum istri mendiamkan suami, sebaiknya silent treatment ini tidak dilakukan berlama-lama. Tentunya, Moms perlu komunikasi untuk menyelesaikan masalah.

Rumah tangga tanpa komunikasi, apalagi diisi dengan amarah akibat pertengkaran, tentunya tidak akan diliputi keberkahan.

Bila Moms sudah merasa tenang, segeralah ajak suami berbicara untuk mencari jalan keluar dan lakukan komunikasi dengan baik, sambil memberi nasihat terbaik untuk kesalahan yang sudah dilakukan suami.

Karena hukum istri mendiamkan suami diperbolehkan, ada baiknya Moms melakukan itu ketika sedang dalam puncak pertengkaran.

Setidaknya, ini untuk terhindar dari masalah pertengkaran yang parah.

Berikut Hadits Perihal Istri Marah pada Suami

Selain hadits di atas, Rasulullah SAW juga mengatakan dalam hadits lain perihal hukum istri mendiamkan pada suami.

Apabila suami dibentak, dimarahi, atau didzolimi, bidadari-bidadari surga akan sangat murka pada istri yang memarahi suaminya tersebut.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang istri menyakiti suaminya di dunia, tetapi istrinya dari kelompok bidadari bakal berkata, “Janganlah engkau menyakitinya. Semoga Allah memusuhimu. Dia (sang suami) hanyalah tamu di sisimu; nyaris saja ia bakal meninggalkanmu menuju pada kami” (HR. At-Tirmidzi)

Baca Juga  Saat Nyawa Manusia Dicabut, Seperti Ini Sosok Malaikat Maut yang Dijelaskan dalam Al-Qur'an

Dalam hadits yang sudah dijabarkan di atas, jelas istri tidak boleh marah pada suami sampai membentak.

Untuk itu, gunakan hukum istri mendiamkan suami. Ini diperbolehkan berdasarkan Islam sekaligus Moms bisa memenangkan diri terlebih dulu.

Apabila Moms merasakan kemarahan yang tidak bisa ditahan, alangkah lebih baik menenangkan diri dulu dengan mengucapkan istigfar dan memohon ampun pada Allah SWT. Setidaknya dengan beristigfar, hati akan menjadi lebih tenang.

Suami Melakukan KDRT, Bagaimana Sikap Istri?

Jika suami melakukan tindakan kekerasan, maka pemaksaan, atau menyakiti istri, apakah istri hanya boleh diam dan tidak boleh melawan?

Apakah hukum istri mendiamkan suami tepat digunakan atau justru harus bertindak?

Perlu diketahui, tindakan KDRT sangat dilarang dalam Islam.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk, dia tidak bisa lurus untukmu di atas satu jalan. Bila engkau ingin bernikmat-nikmat dengannya maka engkau bisa bernikmat-nikmat dengannya namun padanya ada kebengkokan. Jika engkau memaksa untuk meluruskannya, engkau akan memecahkannya. Dan pecahnya adalah talaknya.” (HR. Muslim).

Dilansir dari NU Online, suami yang melakukan KDRT kepada istrinya hukumnya adalah haram.

Perilaku KDRT suami juga bisa menjadi alasan bagi seorang istri untuk menggugat cerai suaminya.

Akan tetapi, banyak orang yang menganggap kekerasan pada istri diperbolehkan dalam Islam.

Dalam surat An-Nisa ayat 34, berbunyi:

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).

Baca Juga  Terinspirasi dari Kartun Ini, Bocah 4 Tahun Terjun dari Lantai 26 Pakai Payung

Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.”

Kalimat “kalau perlu pukullah” dianggap seolah-olah suami boleh memukul istrinya.

Padahal, ayat tersebut menjelaskan kondisi di mana istri secara terang-terangan tidak taat dan berperilaku buruk pada suami dan agama.

Terjemahan kata “memukul” dalam ayat tersebut juga masih menjadi perdebatan di kalangan penafsir Al-Quran.

Yang pasti, suami dan istri wajib saling menutup aibnya satu sama lain.

Dalam keadaan marah sekali pun, rahasia pasangan hendaknya tidak diceritakan kepada orang lain.(Red)

Redaksi : Suliswan

Spread the love

Share :

Baca Juga

Bengkulu Utara

Pemkab BU, Salurkan Bantuan Disabilitas dan Honor Pemuka Agama

Hukum & Peristiwa

Disekap Dalam Gubuk Selama 3 Hari Tanpa Makanan, Siswi SMP Diperkosa

Nasional

Keseruan Duel AC Milan vs Chelsea, Pukul 02.00 WIB

Nasional

Keakrapan Ucok Baba Dengan Putranya Adam Saat Kelulusan SMK

Headline

Bisa Bikin Pintar, Inilah 10 Makanan yang Dapat Meningkatkan Kecerdasan Otak

Bengkulu Utara

Diduga Semenjak Beroperasinya PT.PMN Sungai Desa Talang Baru Ginting Keruh Pekat

Headline

Jangan Dianggap Sepele! 7 Kebiasaan Berkendara yang Bisa Merusak Mobil, Nomor 7 Paling Sering Dilakukan

Bengkulu Utara

Kepala Dispendik Bengkulu Utara, Resmi Ditetapkan Tersangka